FORTASI : Introducing Our Peace Country To a Newbie Young People
Pemalang — Pembukaan Forum Ta’aruf dan Orientasi Santri (FORTASI) AMBS Pemalang berlangsung khidmat dan penuh semangat pada hari pertama kegiatan. Rangkaian acara diawali dengan upacara pembukaan yang menjadi penanda dimulainya masa pengenalan bagi para santri baru. Suasana tertib dan penuh antusias tampak sejak awal kegiatan, ketika para peserta mengikuti prosesi dengan rapi dan penuh perhatian.
Dalam seremoni pembukaan tersebut, para santri baru juga menerima pengalungan tanda santri baru sebagai simbol resmi diterimanya mereka sebagai bagian dari keluarga besar kampus AMBS Pemalang. Momen ini menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam rangkaian FORTASI, karena tidak hanya menandai awal perjalanan mereka di lingkungan baru, tetapi juga mengandung pesan tanggung jawab, kedisiplinan, dan kesiapan untuk menempuh proses pendidikan di pesantren.
Setelah prosesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan lingkungan kampus dan area pesantren. Para santri baru diajak mengenal berbagai fasilitas, ruang belajar, asrama, serta titik-titik penting yang akan menjadi bagian dari keseharian mereka selama menimba ilmu. Pengenalan ini bertujuan agar para santri dapat lebih cepat beradaptasi, memahami tata tertib, serta merasa nyaman dalam menjalani kehidupan pesantren yang penuh pembinaan dan kebersamaan.
Memasuki sore hari, rangkaian FORTASI berlanjut dengan kuliah kepondokan yang disampaikan langsung oleh Mudir AMBS Pemalang, Ustadz Sapto Suhendro. Dalam penyampaiannya, beliau memberikan nasihat mendalam kepada para santri baru agar memahami makna kehidupan pesantren sebagai proses pembentukan karakter, bukan sekadar tempat belajar formal. Beliau juga menekankan pentingnya meluruskan niat masuk ke Kampus AMBS, karena niat yang benar akan menjadi fondasi utama dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang di jalan kebaikan.
Beliau juga mengingatkan para santri untuk memahami hikmah dari setiap musibah dan ujian yang datang. Dengan mengutip mahfudot, “Maṣā'ibu qaumin 'inda qaumin fawā'idu,” Ust. Sapto menjelaskan bahwa musibah yang menimpa suatu kaum bisa menjadi pelajaran dan manfaat bagi kaum lainnya. Karena itu, setiap ujian harus disikapi dengan sabar, syukur, dan husnuzan kepada Allah. Menurutnya, sikap tersebut akan membentuk pribadi santri yang kuat, matang, dan tidak mudah goyah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dalam kesempatan itu juga, Ust. Sapto menegaskan bahwa hal pertama yang harus diperbaiki oleh seorang santri adalah niat. Niat yang lurus untuk belajar akan menjaga semangat belajar tetap istiqamah, membuat ibadah lebih ikhlas, serta menumbuhkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan pesantren. Ia berharap para santri baru mampu menjaga niat tersebut sepanjang proses pendidikan, sehingga kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.
Kuliah kepondokan tersebut menjadi penutup yang bermakna dalam rangkaian hari pertama FORTASI. Selain memperkenalkan lingkungan pesantren, kegiatan ini juga memberikan bekal spiritual dan motivasi awal bagi santri baru untuk memulai perjalanan mereka di AMBS Pemalang dengan semangat, adab, dan tujuan yang jelas.
